Langsung ke konten utama

Tips Meningkatkan Komunikasi dengan Anak Remaja

Pengaruh kawan sebaya terhadap anak, utamanya remaja, sangat besar. Steven Parker, ahli bahasa, psikolog sekaligus ilmuan kognitif asal Kanada bahkan mengatakan, "Pemikiran bahwa anak adalah sumber pasif yang mudah dibentuk oleh orangtua adalah omong besar. Kelompok teman sebaya anak atau remaja lah penentu yang jauh lebih besar dibanding aspirasi orang tua. Hal ini akan terkait dengan perkembangan dan prestasi mereka nantinya.” Hal itu mudah dipahami bila melihat pada usia remaja, persentase waktu anak bergaul dengan kawan sebayanya jauh lebih besar daripada berkumpul dengan orang tua. Saat berkumpul dengan kawan sebaya itulah, terjadi proses pertukaran pengaruh, seperti penampilan, sikap, dan bahkan perilaku.


Banyak orangtua tidak terlalu mempermasalahkan anak remaja banyak bergaul bersama kawan sebayanya. Alasannya, itu hal yang normal, dan hak remaja. Masalah yang muncul kemudian, tidak jarang hubungan antara remaja dan orangtua menjadi kurang dekat bahkan sering melahirkan konflik. Idealnya, orangtua tetap memiliki ikatan dan komunikasi yang tidak kalah kuat dengan ikatan anak remaja dengan kawan sebayanya. Hal itu penting agar pengaruh negatif tidak memengaruhi dan merusak karakter anak. Menurut Sahabat Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ada beberapa strategi untuk menguatkan komunikasi dengan anak:

1. Menghargai keberadaan kawan sebaya 

Dukunglah anak remaja untuk bergaul dengan kawan sebayanya. Namun, pastikan bahwa pergaulan remaja itu membawa dampak positif bagi anak. Akan lebih baik lagi apabila orang tua kenal dengan kawan-kawan anak dan sesekali ikut bergaul. Lakukan pembicaraan dengan anak tentang kawan teman-temannya sebagai bentuk penghargaan atas keberadaan mereka.

2. Nasehati anak dengan halus namun tegas 

Perlu disadari, berbicara kasar membuat anak remaja tergores harga dirinya. Apabila orangtua memiliki tujuan untuk menasehati lakukan dengan cara halus namun tetap tegas. Hal tersebut membuat anak remaja mau menerima nasehat dengan baik pula. 

3. Sering mengajak anak mengobrol santai 

Sesibuk apapun orangtua, sempatkan waktu untuk berbagi, berbincang dan diskusi dengan anak tentang berbagai macam hal. Topik-topik tersebut bisa tentang kegiatan ekstrakurikuler, perkembangan akademik, film yang sudah ditonton bersama kawan, piala dunia atau topik-topik serius seperti korupsi di Indonesia dan sebagainya. Interaksi dan komunikasi intens membuat hubungan orang tua dan anak lebih kuat dan harmonis. 

4. Memberi contoh nyata 

Dalam aktivitas pengasuhan, contoh ataupun teladan adalah kunci utama penanaman perilaku positif pada anak. Bila orangtua juga memperlakukan orang tua, kakek atau nenek, maka remaja tersebut mendapatkan contoh dan teladan nyata dalam berperilaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah 10 Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Bandung

Berikut ini adalah daftar tempat wisata di Lembang yang wajib dikunjungi pada saat berada di Bandung saat menghabiskan waktu liburan akhir pekan atau libur panjang. Lembang merupakan tempat tujuan wisata di daerah Bandung yang cukup populer, khususnya para warga sekitar Bandung seperti Jakarta dan Purwasuka. Selain karena udaranya yang sejuk dan asri, tempat wisata di Lembang tergolong murah dan ekonomis. Pada saat liburan akhir pekan tiba, Lembang selalu dipenuhi kendaraan dari berbagai luar daerah Bandung. Karena selain menjadi tujuan utama, Lembang juga merupakan lokasi wisata transit bagi sebagian orang yang sedang melakukan perjalanan menuju ke Bandung dari arah Subang, atau sebaliknya. Lalu, apa saja tempat wisata Lembang, Bandung yang layak untuk dijadikan destinasi utama, berikut ini adalah daftarnya : 10. Sapu Lidi Tempat wisata Lembang yang pertama adalah Sapu Lidi. Hmm nama yang cukup aneh ya. Namun dibalik namanya yang aneh tempat wisata Lembang, Bandung ini me...

Ini Dia Salah Satu Cara Ampuh Untuk Diet

Menurut riset, mengubah waktu makan bisa menjadi kunci untuk mengurangi lemak tubuh. Riset ini dilakukan selama 10 minggu oleh peneliti dari University of Surrey. Hasil riset membuktikan waktu makan ternyata berdampak signifikan terhadap tubuh kita. Dalam penelitian, peserta tidak diharuskan untuk mengatur jenis makanan dan bisa mengonsumsi makanan apapun yang mereka inginkan, namun hanya makan pada jam-jam tertentu. Peserta dalam riset ini terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang mengonsumsi makanan seperti biasa. Sementara kelompok kedua mengonsumsi sarapan 90 menit lebih lambat dan makan malam 90 menit lebih awal. Setiap peserta juga diminta mengisi buku harian diet sepanjang penelitian, memberikan sampel darah dan menyelesaikan kuesioner usai penelitian.    Hasilnya, mereka yang mengonsumsi makanan pada jeda waktu lebih kecil mengalami pengurangan lemak dua kali lebih besar daripada kelompok lainnya. Dari hasil pengisian kuesioner, terungkap...